SD
Integral Luqman Al-Hakim Ngawi melakukan kunjungan ke benteng Van Den Boach,
Ngawi. Yang merupakan peninggalan sejarah, sekaligus bermain-main dengan
lumba-lumba (22/02/2014). Acara ini diikuti oleh 156 siswa dan diawali dengan
murojaah hafalan QS. An-Nas sampai Al-Balad yang dipimpin oleh Ust, Suratno, S.
Pd.*M. Arifuddin/Asosiasi Penulis Islam
Senin, 24 Februari 2014
Rabu, 29 Januari 2014
Menguji Janji Allah
Oleh M.Arifuddin*
Hari itu bertepatan hari Jum’at saya berkeinginan untuk menguji tentang
ayat Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat: 261, yang menjelaskan bahwa “Allah akan
melipat gandakan infak seseorang di jalan Allah seperti benih yang menumbuhkan
tujuh tangkai, dan pada setiap tangkai ada seratus biji bagi siapa yang Dia
kehendakai.” Akhirnya saya putuskan untuk membawa uang sebesar 2000,- rupiah
untuk mengisi kotak infak di masjid nanti.
Setiba di masjid saya pun melaksanakan shalat sunnah tahiayatul masjid
kemudian mengikuti rangkaian sholat jum’at tersebut. Seperti biasa. Disaat
khotib berkhutbah, kotak infak bergeser dari satu jama’ah ke jama’ah yang lain,
hingga sampailah di hadapan saya. Akhirnya saya memutuskan untuk memasukkan
uang 2000,- rupiah tadi kedalam kotak infak tersebut, kemudian saya geser kotak
infak tersebut ke jama’ah yang ada di sebelah saya.
Selang satu hari setengah dari kejadian tadi. Tepatnya pada sabtu malam/
malam minggu, saya memutuskan untuk makan di luar bersama teman-teman saya.
Ketika itu saya memesan nasi goreng dan es jeruk yang total semuanya seharga
20.000,- rupiah. Sesudah makan, saya pun ingin membayar makanan saya tadi. Belum
sempat saya mengeluarkan uang dari dompet saya, tiba-tiba salah seorang teman saya
ternyata sudah membayar makanan kami semua.
Sepulang dari dari makan tadi, timbullah pertanyaan besar dibenak saya.
“Ko’ tiba-tiba teman tadi mentraktir saya? Padahal sebelumnya dia tidak pernah
mentraktir saya, paling-paling yang diteraktir cuma teman-teman yang dekat sama
dia saja,” pikir saya dalam hati. Kemudian selang beberapa saat, saya teringat
dengan kejadian Jum’at lalu. “Mungkinkah ini balasan dari Allah yang berkembang
menjadi sepuluh kali lipat?” tanyan saya dalam hati.
Senin, 20 Januari 2014
Ilusi Teknologi
oleh M. Arifuddin*
Aku ingin memaki
Kepada ilusi teknologi
Kian hari, kian menggerogoti
Sibuk pada diri sendiri
Tak peduli kanan dan kiri
Kini...!
Dirimu... dirimu
Diriku... diriku
Kita, kami, tak berlaku lagi
Jumat, 26 April 2013
Kekurangan Bukan Penghalang
Oleh M. Arifuddin*
"Pengembangan dimulai pada saat kita mulai menerima kekurangan kita" – Jean Vanier
Banyak orang
yang cacat, tetapi mereka berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah penghalanga untuk sukses. Salah
satunya adalah Hee Ah Lee, pianis Korea berbakat kelahiran tahun 1985. Ia
terlahir hanya memiliki 4 jari, masing-masing 2 jari pada tangan kiri dan
2 jari pada tangan kanannya. Ia menderita lobster claw syndrome, jari
yang bengkok menyerupai lobster.
Keterbatasan fisik
tidak menyurutkan langkah Hee Ah Lee berkarya di dunia musik. Meski hanya
memiliki empat jari berbentuk capit kepiting. Hee Ah Lee piawai memainkan
lagu-lagu komponis dunia. Sewaktu Hee Ah
Lee duduk di bangku TK, ibunya
memutuskan agar ia belajar piano supaya
jari-jarinya kuat dan dapat memegang pensil
untuk menulis. Awalnya ketika baru 3 bulan
belajar, ia dikeluarkan karena guru
sekolahnya tak sanggup mengajarnya. Tapi
perjuangan ibunya dan Hee Ah Lee membuahkan hasil. Satu tahun kemudian, ia sudah menunjukan kebolehannya dengan memenangkan kejuaraan piano di TK-nya. Prestasi itu diikuti dengan kemenangannya sebagai juara pertama piano untuk anak-anak cacat di usianya yang ke-7. Presiden Korea sendiri yang
memberi penghargaan tersebut. Kini, Hee Ah Lee telah menggelar ratusan konser di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Kemampuannya bermain piano tidak kalah dibanding mereka yang
berjari lengkap. Empat jari berbentuk capit kepiting itu bahkan tidak
menghalangi untuk memainkan karya-karya musisi legendaris seperti Chopin,
Beethoven, dan Mozart.
Tak jauh dari kita, di Indonesia ada Ucok
Baba. Seorang artis dan komedian yang tenar dengan kekocakannya serta tubuhnya
yang mungil, adalah anak ketujuh dari sembilan bersaudara yang terlahir
dengan tubuh paling kecil (cebol). Padahal, orang tua dan saudara-saudaranya memiliki postur tubuh yang normal. Tak ayal, Ucok sering minder. Dia lebih suka berada di
rumah. Karena bila main di luar dia sering mendapat
cemoohan dari teman-temannya.
Karena tak betah tinggal di kampung, Ucok Baba
akhirnya memutuskan untuk hijrah ke jakarta pada 1990 dengan berbekal uang Rp.
7.500,-. Berkat usaha dan Bakat yang dimilikinya, akhirnya Ucok Baba bisa
menjadi artis terkenal dengan kepiawaiannya yang sangat unik. Andai saja Ucok
Baba tidak mau berusaha untuk bangkit dari kekuranganya dan terus bersembunyi
di dalam rumah lantaran tubuhnya yang cebol. Pasti ia tidak akan pernah menjadi
Ucok Baba saat ini.
Mempunyai kekurangan fisik bukan berarti tidak memiliki masa depan. Prinsip
ini yang mungkin digunakan seorang pianis empat jari Hee Ah Lee dan artis
sekaligus pelawak Ucok Baba untuk menapaki kariernya di dunia entertaiment.
Hee Ah Lee dan Ucok Baba adalah sebagian kecil
dari sekian banyaknya orang-orang cacat yang sukses, laksana gunung es yang
terlihat hanya puncaknya saja. Lantas, amat sangat ironi, jika kita yang
memiliki anggota tubuh yang sempurna (normal) masih merasa minder untuk melakukan
sesuatu, demi menggapainya sebuah kesuksesan. Bukankah telah dijelaskan di dalam
al-qur’an, “Allah tidak membebani seseorang melaikan sesuai dengan
kesanggupanya” (QS. Al-Baqarah: 286). jadi tidak ada yang tidak mungkin,
selagi kita masih mempunyai kemauan dan usaha, penuh ketekunan dan pantang
menyerah dalam menggapai mimpi.
“Kekurangan bukanlah penghalang meraih sebuah kesuksesan, Jangan batasi pikiran dan kemampuan Anda dengan kekurangan diri. Bila kita melangkah dan berusaha disertai iman kepada Allah, percayalah bahwa tak ada yang tak mungkin.” – Anne Ahira
Senin, 18 Februari 2013
Indahnya Kejujuran
Oleh *M. Arifuddin
Seorang sopir
taksi Singapura dipuji sebagai pahlawan setelah ia mengembalikan uang senilai
1,1 juta dolar Singapura (sekitar Rp8,6 miliar) dalam bentuk tunai kepada
pasangan Thailand yang sedang berlibur dan meninggalkan uang dalam taksinya.
Sia Ka Tian (70) terkejut
menemukan uang dalam kantong kertas hitam di kursi belakang taksinya setelah ia
menurunkan pasangan tersebut di sebuah pusat perbelanjaan.
Namun ketika ia membawa uang
itu ke kantor perusahaan transportasi ComfortDelGro kantor perusahaan tempat ia
bekerja, rekannya yang merasa kaget menghitung bahwa jumlahnya sebesar 1,1 juta
dolar Singapura (sekitar Rp8,6 miliar) dalam lembaran ribuan dolar.
“Uang itu tidak penting bagi
saya. Itu bukan milik saya, jadi bagaimana saya bisa menggunakannya?,” katanya
kepada surat kabar.
Dari kejadian itu, Sia
menerima hadiah uang tunai dengan jumlah yang dirahasiakan dari pasangan
tersebut, yang tidak disebutkan namanya, dan pihak perusahaan juga berencana
untuk memberikannya sebuah penghargaan atas layanan kinerjanya yang bagus.
Dari kisah di atas kita mendapat
sebuah pelajaran yang amat sangat berharga, pasalnya kejujuran itu tidak akan
pernah tumbuh jika kita tidak membiasakannya hadir pada diri kita. Cobalah kita
bayangkan jika sifat jujur sudah menjadi hal yang langka, maka setiap orang
akan saling curiga terhadap orang-orang di sekitarnya. Tapi sungguh ironi jika
melihat realita saat ini, kejujuran sudah menjadi barang langka di negri kita.
Bahkan, orang jujur akan mendapat cela dari orang-orang di sekitarnya. Namun
sebaliknya, orang-orang pendusta malah menjadi public pigur di negri kita.
Padahal kejujuran adalah salah satu nilai jual kita untuk bisa masuk ke surga.
Secarik Pesan dari Anak Ayam
Sore itu aku berdiri di belakang rumah saya, tiba-tiba saya melihat ada
seokor induk ayam dan tiga ekor anaknya yang mencoba memanjat sebuah pohon Akasia
yang berada persis di depanku. Untuk
memudahkan ayam itu memanjat ke pohon tersebut, Bapakku membuatkan tangga dari
sebatang pohon untuk ayam tersebut.
Singkat cerita induk ayam itupun lebih dulu memanjat ke pohon tersebut,
kemudian disusul dengan ketiga anaknya. Anak ayam pertama bisa melewati tangga
tersebut dengan selamat, padahal di bawah tangga tersebut ada parit atau
selokan yang sedang penuh dengan air. Kemudian giliran anak ayam yang kedua.
Ketika itu aku melihat anak ayam ini terlihat pesimis, pasalnya ia berhenti di
tengah-tengah tangga tersebut dan selalu memandang ke selokan yang ada di
bawahnya. Di tengah ketegangan yang dialami oleh ayam kedua, tiba-tiba anak
ayam yang ketiga datang menyusul untuk melewati tangga tersebut. Tanpa
memperdulikan ayam yang kedua, ayam ketiga menjoba melompatin ayam yang kedua
ini lantaran menghalangi langkahnya, dengan tujuan agar ia sampai lebih cepat.
Tapi diluar perkiraan ayam yang ketiga, ia jatuh tepat di atas ayam yang kedua,
sehingga membuat kedua ayam itu terjatuh ke selokan.
Ketika itu timbul rasa iba di hatiku untuk menolong kedua ayam itu, tapi
hal itu aku urungkan, karena aku melihat ayam tersebut dapat menyelamatkan
dirinya sendiri dengan berenang ke tepi selokan. Saat itu aku berfikir kalau
ayam tersebut tidak akan lagi memanjat pohon Akasia itu, karena mereka sudah kecebur
kedalam selokan. Tapi di luar prediksiku, ternyata kedua anak ayam tadi kembali
memanjat pohon tersebut melalui tangga yang sama. Alhamdulillah kali ini kedua
ayam tersebut selamat sampai ke salah salah satu dahan pohon yang di sana sang
induk bertengger.
Kamis, 07 Februari 2013
Aku Bukan Untukmu
Oleh: Ghifari*
Hari itu langit
terlihat meringis lantaran gerimis selalu metetes, laksana butiran-butiran
keristal bening yang berhambur dari gumpalan awan yang lagi cemberut dengan
wajah muram keabu-abuan. Tapi hal itu tidak menyurutkan semangatku untuk
menuntut ilmu di salah satu Universitas swasta di kotaku. Tapi tiba-tiba HPku
berdering hingga menbuyarkan wirid pagiku yang tinggal satu lembar lagi.
“Kringg..
kringg.. kringg..” (telpon bordering)
“Maaf.., ini
siapa yach?..” seraya menggaruk kepala.
“Ini Nisa.., kak”
kata suara disebrang sana.
“Begini kak,
aku ingin menayakan suatu hal yang amat serius buat kaka dan kak Niar” sambung
orang di sebrang sana..
“Apa itu
dik?..” tanyaku penasaran seraya memfokuskan pendengaranku.
“Apakah kaka
siap untuk menjadikan kak Niar sebagai pendamping hidup kaka dalam waktu dekat
ini, karena ka’ Niar tidak ingin hubungan kaka dan ka’ Niar berlarut-larut
tanpa ada kejelasan” kata Nisa dengan tegas.
Langganan:
Postingan (Atom)




