Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku membencinya, ia adalah sebuah hal
yang memalukan. Ibuku menjalankan sebuah toko kecil pada sebuah pasar.
Dia mengumpulkan barang-barang bekas dan sejenisnya untuk dijual,
apapun untuk mendapatkan uang yang kami butuhkan. Ia adalah sebuah hal
yang memalukan.
Pada suatu hari di sekolah. Aku ingat saat itu hari ketika ibuku
datang. Aku sangat malu. Mengapa ia melakukan hal ini kepadaku? Aku
melemparkan muka dengan rasa benci dan berlari. Keesokan harinya di
sekolah.. “Ibumu hanya memiliki satu mata?” dan mereka semua mengejekku.
Aku berharap ibuku hilang dari dunia ini maka aku berkata kepada ibu aku,”Ibu, kenapa kamu tidak memiliki mata lainnya? Ibu hanya akan menjadi bahan tertawaan. Kenapa Ibu tidak mati saja?”
Ibu tidak menjawab. Aku merasa sedikit buruk, tetapi pada waktu yang
sama, rasanya sangat baik bahwa aku telah mengatakan apa yang telah
ingin aku katakan selama ini.
Mungkin itu karena ibu tidak menghukum aku, tetapi aku tidak berpikir bahwa aku telah sangat melukai perasaannya.
Malam itu, Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas
air. Ibuku menangis disana, dengan pelan, seakan ia takut bahwa ia akan
membangunkanku. Aku melihatnya, dan pergi. Karena perkataanku sebelumnya
kepadanya, ada sesuatu yang mencubit hati aku.
Jumat, 12 Oktober 2012
Zhang Da, Kisah Seorang Anak Teladan dari Negeri China
Sebuah kisah yang mengharukan dan bisa juga sebagai teladan untuk
anak-anak jaman sekarang, seorang anak yang dengan tekun merawat
ayahnya yang sakit. Seorang anak di China pada 27 Januari 2006 mendapat
penghargaan tinggi dari pemerintahnya karena dinyatakan telah
melakukan “Perbuatan Luar Biasa”. Diantara 9 orang peraih penghargaan
itu, ia merupakan satu-satunya anak kecil yang terpilih dari 1,4 milyar
penduduk China.
Yang membuatnya dianggap luar biasa ternyata adalah perhatian dan pengabdian pada ayahnya, senantiasa kerja keras dan pantang menyerah, serta perilaku dan ucapannya yang menimbulkan rasa simpati. Sejak ia berusia 10 tahun (tahun 2001) anak ini ditinggal pergi oleh ibunya yang sudah tidak tahan lagi hidup bersama suaminya yang sakit keras dan miskin. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan.
Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk dia. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai.
Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah.
Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan Papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya.
Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan.
Kamis, 11 Oktober 2012
Notebook obat ngantuk
Oleh: M. Arifuddin
Ironi
melihat realita saat ini notebook bukan lagi menjadi bahan penunjang
kelangsungan peroses belajar mengajar. Pasalnya hampir 85% dari pelajar yang
membawa notebook ke ruang kelas ketika pelajaran sedang berlangsung mereka
menggunakannya untuk berfacebook ria ketimbang membuka pelajaran yang
berhubungan dengan pelajaran yang sedang berlangsung dan hampir kebanyakan dari
mereka membawa notebook dengan alasan untuk menghilangkan rasa ngantuk, sungguh
alasan yang membuat hati menjadi miris. Apakah karena pendidik kita kurang
kereatif dalam mengajar ataukah disebabkan lebih sibuk dengan urusan-urusan
yang tidak penting dan dibuat menjadi penting.
Hal ini semakin mencuat ketika para pelajar
yang sering membawa notebook ke ruang kelas
tidak bisa menjawab pertanyaan dari pelajaran yang telah diterangakan
oleh pendidik dan sungguh ironinya lagi ketika para pendidik bahkan pemerintah
lebih ‘suka’ berfacebook ria dan atau bertwiter ria ketimbang melaksanakan
tugas mereka dengan baik.
Tentunya
kebiasaan ini sungguh amat sangat memprihatinkan. Karena pelajar yang unggul
akan dihasilkan tentu dengan pendidik yang unggul pula, bukan pendidik yang facebooker. Begitupula Negara maju itu
bisa terlihat dari kinerja para pemerintahnya, tentunya bukan pemerintah yang
lebih doyan beriskusi dengan ‘Bu Maya’ (dunia maya) untuk melakukan perbuatan
yang sia-sia dan alangkah mirisnya lagi ketika hal ini sudah menjadi habbit di
Negri kita.
Oleh karena
itu mari kita manfaatkan fasilitas yang Allah berikan untuk kebaikan pendidikan
kita serta kemajuan Negara kita Indonesia.
Selasa, 09 Oktober 2012
Aku, Aris dan Anis
oleh: M. Arifuddin
Hari
itu hari kamis
Lagit cerah padahal gerimis
Lagit cerah padahal gerimis
Aku
mengantar temanku ‘Aris’
Tuk
melamar seorang gadis yang tinggal di jalan Manggis.
Aku
dan Aris berbaju gamis
Serata
bercelana hitam yang disetrika hingga bergaris.
“siapa
sich calonmu ris?” tanyaku pesimis.
Sebab
aku akan melamar Anis,
anak
pak Broto yang juga tinggal di jalan Manggis.
“namanya
Anis” kata Aris optimis.
Sepontan
saja aku kaget, bahkan hampir menaggis.
“siapa
sich calonmu ris?” Tanyaku lagi dengan optimis.
“namanya
Anis” kata Aris sambil tersenyum manis.
GLEK..
tiba-tiba badanku merinding seperti bertemu pembunuh berdarah iblis.
Ingin
kubertanya untuk yang ke tiga kali, tapi keburu kutepis lantaran dadaku
kembang-kempis.
Jalan
manggis tak jauh dari tempatku dan aris,
Tapi
tubuhku lunglai seperti baru tertikam keris, padahal kami naik minibis.
Kucoba
tuk bersabar dan optimis ketika kami sampai di rumah pak Broto, persis!.
Rumah
pak Broto indah dan setrategis.
Di
depan ruah tampak palem botol apik berbaris,
serta
sebuah kolam yang dihuni ikan nila dan burung belibis
yang
di atasnya membentang jembatan yang melengkung laksana pelangi, simetris.
“wow
eksotis” kataku , menghibur hati yang teriris.
***********
Hari
ini hari ahad, bukan hari kamis.
Langit
cerah tapi hatiku gerimis.
Sambil
menyeruput secangkir kopi manis,
Kubaca
surat undangan pernikahan Aris dan Anis.
Ingin
sekali kurobek surat itu dengan bengis,
tapi
itu harus kutepis demi kebaikan Aku dan Aris.
Wajah
miris dan senyum sinis kukikis dengan beristigfar dan tersenyum manis
di hari bahagia Aris dan Anis.
Ketika
itu aku hanya mencoba tersenyum manis, sekalipun hatiku meringis.
Senin, 08 Oktober 2012
SANDAL JEPIT ISTRIKU
Oleh Ana Miladiyah
Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang
memenuhi kepala ini. Duh, betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar
memuncak seperti ini, makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan
lidah. Sayur sop rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin
tak ketulungan.
“Ummi… Ummi, kapan kamu dapat memasak dengan benar? Selalu saja,
kalau tak keasinan, kemanisan, kalau tak keaseman, ya kepedesan!” Ya,
aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.
“Sabar Bi, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul? Ucap isteriku kalem.
“Iya. Tapi Abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti
Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini!” Jawabku
masih dengan nada tinggi.
Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan
kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya
merebak.
***
Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini
penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan baiti jannati di
rumahku. Namun apa yang terjadi? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan
apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh
keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal
pecah. Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini.
Piring-piring kotor berpesta-pora di dapur, dan cucian, wouw!
berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena
berhari-hari direndam dengan deterjen tapi tak juga dicuci. Melihat
keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada.
“Ummi… Ummi, bagaimana Abi tak selalu kesal kalau keadaan terus
menerus begini?” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ummi…
isteri sholihah itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga
harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa
masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah?”
Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis
isteriku yang kelihatan begitu pilu. “Ah… wanita gampang sekali untuk
menangis,” batinku. “Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi
isteri shalihah? Isteri shalihah itu tidak cengeng,” bujukku hati-hati
setelah melihat air matanya menganak sungai.
“Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus.
Rumah ini berantakan karena memang Ummi tak bisa mengerjakan apa-apa.
Jangankan untuk kerja, jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus,
ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isteriku diselingi
isak tangis. “Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang
hamil muda…” Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap
merebak.
Hamil muda?!?!
Rabu, 26 September 2012
Panggilan Menakutkan
Oleh : M. Arifuddin*
Mbah Rumini adalah seorang janda 68 tahun. Ia tinggal
di debuah panti jompo di tempat tinggalnya,
yaitu di desa Madani. Mbah Rumini bekerja sebagai juru masak di salah
satu rumah makan di desanya. Gajinya tidak besar, tapi cukup menghidupi dirinya
yang tingggal sebatangkara. Bahkan ia masih bisa menabung dari gajinya
tersebut, setelah dipotong untuk keperluan sehari-hari.
Mbah Rumini punya cita-cita besar, ia ingin
naik haji. Sebenarnya cita-citanya itu sudah lama bersemanyam di hati dan
pikirannya. Bahkan cita-cita itu hampir tercapai. Tapi sayang, takdir berkata
lain. Ketika itu musibah datang menimpa keluarga mbah Rumini.
Suatu hari
ketika keluarga mbah Rumini sedang sibuk memersiapkan hajatan untuk keberangkat
hajinya, tiba-tiba terjadi gempa bumi berkekuatan 10,5 SR dengan kedalaman 5 KM
lokasi 2,4LU 92,99BT. menggoncang desa Madani. Tak dipungkiri gempa tersebut
telah memporak-poradakan desa Madani.
Jumat, 21 September 2012
Ospek gagal, ‘Mala’ kecewa, ‘Maba’ tertawa
.Ancaman kegagalan ospek teryata menimpa pada angkatan 2011 STAI Luqman Al-Hakim atau angkatan 6 panceng. Hal ini semakin mencuat ketika tidak adanya kegiatan lapangan yang dilaksanakan di pagi hari (17/9) sebagaimana di ospek-ospek sebelumnya. Tentunya hal ini akan menjadi bumerang bagi angkatan 2011 STAI Luqman Al-Hakim Surabaya, pasalnya kegagalan OSPEK di tahun ini adalah cerminan sukses atau tidakanya kegiatan-kegiatan yang akan mereka lakukan di masa yang akan datang.
Tak dipungkiri hal ini membuat angkatan 2010 STAI Luqman Al-Hakim Surabaya turut kecewa, pasalnya kepanitian OSPEK angkatan 2011 STAI Luqman Al-Hakim Surabaya tersebut dibawah bimbingan angakatan 2010 STAI Luqman Al-Hakim Surabaya. Kekecewaan ini tak hanya datang dari ankatan 2010 STAIL saja, bahkan dari anggkatan STAIL yang akan diwisuda nanti.
Hampir seluruh mahasiswa STAIL menanati momen ospek tersebut, bahkan ada yang menanti sejak pukul 24:00, tapi lagi-lagi kekecewaan yang mere dapatkan.” Kami berharap panitia ospek tahun ini lebih bersemangat, jangan ciut hanya karena mendapat teguran dari Dosen. Tapi jadikanlah hal tersebut sebagai batu loncatan demi suksesnya ospek ini” kata salah satu mahasiswa STAIL. Hal ini tidak dipungkiri, pasalnya kampus 2 STAIL berada di lokasi yang sangat extrim.
Langganan:
Postingan (Atom)




